Dan untukmu, jiwa yang berani kuajak dalam segala bentuk tawa.
Mungkin nanti tepat tujuh menit sebelum napasku menyerah, tawamu akan kembali berdenging di telingaku sebagai satu-satunya ingatan yang membuat kematian pun ragu untuk menyelesaikan tugasnya. Mungkin kelak, sebelum semesta menuliskan namaku sebagai kepergian aku masih sempat tersenyum mengingat murahnya tawa kita tempo hari.
Bukan, bukan karena lirih tawamu yang paling menarik. Kutautkan engkau pada segala tawa milikki-yang rapi, yang sumbang, yang lahir dari bahagia dan yang tumbuh dari kelelahan yang pura-pura lucu.
Sebab tidak semua orang kuizinkan untuk menyentuh tawaku yang retak. Tawa ini cukup beragam ada yang kuhamparkan seperti karpet tipis agar kesedihan tidak langsung menginjak lantai hatiku. Dan kamu berani duduk di sana tanpa bertanya mengapa lantainya dingin.
Aku menarikmu ke tawa yang tidak manis, tawa yang sengaja kutampilkan lebih cepat agar tangis tidak sempat belajar bicara.
Dan terimakasih. Terimakasih sebab masih mau mendudukkan tubuh tepat di hadapanku. Terima kasih sebab selau menyeimbangkan tawamu agar senada dengan millikku. Dan hadirmu, cukup membuatku percaya bahwa masih ada jiwa yang berani masuk ke seluruh bahagiaku tanpa menuntut versi yang paling selamat saja.
Mari kita lanjutakn tawa ini, biarlah ia menjadi penyangga waktu, menunda runtuhnya akhir;
Sebab tentang selesai, biarlah nanti saja kita bicarakan ketika semesta tak lagi memberi kita alasan untuk tertawa bersama. Biarlah tawa ini mengisi penuh ruang tidurmu, sesekali bisa kau hirup harumnya jika kita tak lagi sempat.
Tak semua yang kita rawat memilih tinggal lebih lama dari masanya. Tak semua cinta diberi kesempatan menua. Beberapa memang ditakdirkan singgah sebagai bentuk alasan agar masih mau bertahan, beberapa juga terpsiah sebab semesta telah menyusun jarak rapih dan tak bisa ditawar.
Maka jika kelak kita tak lagi berada dalam baris yang sama, biarlah perpisahan itu bekerja seperti tinta yang mengering di naskah tua tak bisa dihapus, tak lagi basah namun tetap menuimpan bentuk tangan yang pernah menuliskannya sebab yang telah hadir tak pernah benar-benar pergi, ia hanya berhenti memeinta untuk dilanjutkan.
Komentar
Posting Komentar