Wallauhalam
Maybe we get married one day. But, who knows?
Mungkin, suatu hari nanti kita menikah?
Mungkin kita berbagi langit yang sama, berbagi kunci rumah yang sama, lalu saling membiasakan diri pada rindu yang tak lagi jarang datang. Atau mungkin nanti kita mulai berhasil memberi nama pada hari-hari biasa, lalu menyebutnya bahagia. Mungkin nanti kita bertengkar tentang hal-hal kecil, seperti siapa yang lupa menutup pasta gigi, atau siapa yang mengambil selimut terlalu banyak saat tidur, lalu kita saling tertawa.
Atau mungkin?
Kita membeli pot kecil berisi kaktus karena katanya tanaman kecil bisa membuat rumah terasa hangat meski kita sama-sama tahu kita bahkan sering lupa menyiram diri sendiri. Mungkin kita akan membahas nama anak kita,sambil tertawa kecil karena kita berdua sama kerasnya. Kamu ingin nama yang terdengar kuat, sedangkan aku ingin nama yang terdengar lembut dan lucu. Kita beradu arfumen seolah masa depan sudah pasti milik kita, seolah semesta telah memberi janji bahwa tangankecil itu benar-benar memanggil kita sebagai "orang tua".
Tapi, siapa yang tahu?
Jika aku hanya seseorang yang berjalan melewati sore yang tenang, ketika tiba-tiba dunia menjadi sunyi karena mataku menangkapmu sedang mengenggam tangan seseorang yang tidak lagi aku. Atau aku hanya seseorang yang menepuk debu di lutut anak kecil yang terjatuh di taman pagi hari, sementara anak itu memelukmu dengan tangis yang penah kubayangkan lahir dari namaku. Oh, matanya terlalu mirip matamu, atau terlalu mirip harapan yang pernah kutanam untuk kita.
Mungkin aku hanyalah pengoleksi buku-buku hingga menua.
Yang setiap menemukan kalimat indah justru ingin membakarnya. Karena aku tahu , tak ada kata seindah apapun yang bisa membuatmu kembali. Mungkin aku hanyalah penyimpan hal-hal kecil: seseorang yang masih menyelipkan struk kopi 5 tahun lalu di antara halaman buku, menyimpan koin receh yang pernah kau serahkan sambil tertawa karena dompetmu penuh, dan membiarkan potongan pita hadiahmu tetap terikat di pegangan laci, seolah benda-benda remeh itu punya kekuatan untuk memanggilmu pulang.
Dan mungkin aku hanyalah seseorang yang masih menyimpan ribuan foto dalam satu flashdisk. Bukan karena rindu, tapi karena aku belum siap menghapus bukti bahwa dulu kita pernah percaya kita tidak akan berakhir.
Sebab pertanyaanku hanyalah itu, tentang mengapa kita pernah sangat yakin bahwasannya kita akan bersatu?
Dan mungkin, jika di semesta kali ini kita tak mampu, apakah salah jika aku meminta kita kembali bertemu? Pada semesta yang tak memiliki akhir dan keraguan. Dan jika suatu hari nanti kita bertemu lagi entah di kereta, di bandara, atau di antara rak supermarket dengan hati yang sudah sembuh dengan cerita yang sudah selesai, semoga kita bisa tersenyum kecil
Komentar
Posting Komentar